Mengenai SayaBIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Te

Adonara, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
BIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Tengah-Flores Timur pada tanggal 11 Agustus 1981. Menamatkan strata I pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kupang pada tahun 2009. Asy’ari Hidayah Hanafi kini menjadi guru pada SMP Negeri Panca Marga Kolimasang, Adonara, Flores Timur, NTT. Pengalaman menulis :  Karya jurnalistik, esai dan puisi dimuat di Media Online weeklyline.net, Flores Post, Jong Flores, Kalabahi Pos dan Media Pendidikan Cakrawala NTT.  Menulis Buku “Tapak Tuah” Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flores Timur Penerbit Nusa Indah, Ende 2017  Menulis Buku “Revolusi Mental Ala Guru” Kumpulan Esai Guru Flores Timur Penerbit Coral Maumere 2018 Asy’ari Hidayah Hanafi juga menjadi pembicara dan Nara Sumber diklat menulis dibeberapa sekolah dan Komunitas Anak Muda di Flores Timur. Pengurus Asosisasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Cabang Flores Timur. Aktif di Nara Teater Flores Timur dan menjadi salah satu aktor dalam Lakon “Ina Lewo” Pentas Pekan Teater Nasional 2018, Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta 13 Oktober 2018.

Jumat, 01 Desember 2017

BUDAYA MEMBACA DAN KETERSEDIAAN BAHAN BACAAN



BUDAYA MEMBACA DAN KETERSEDIAAN BAHAN BACAAN
Oleh Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)membaca merupakanan kata kerja yang berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).  Sedangkan menurut Retno Utami (2007:1) Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan menemukan makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pengenalan makna kata sesuai dengan konteksnya merupakan syarat awal yang diperlukan untuk memahami pesan yang terdapat dalam bahan bacaan. Dalam perspektif islam membaca merupakan ajaran yang jelas dan tegas. Al-Qur’an secara dini mengisyaratkan pentingnya membaca dan meningkatkan minat baca. Dalam Al-Qur’an perintah membaca adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Hal initermuat dalam surah Al-Alaq ayat 1-5.  
Artinya membacamerupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian membaca tidak terjadi secara otomatis, membaca harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat baca.Untuk meningkatkan minat baca ini, kendala yang dihadapi di antaranya adalah dukungan fasilitas. Keberadaan bahan bacaan masih kurang dekat dengan orangnya. Toko buku pun lebih banyak berada di perkotaan. Sementara dipedesaan sanagat sulit ditemui.

Perlu kita ketahui bersama bahwa peringkat minat baca Indonesia dalam data World's Most Literate Nations berada di urutan 60 dari 61 negara. Peringkat tersebut merupakan hasil penelitian dari Central Connecticut State University tahun 2016. Selain itu, pada tahun 2012 Unesco melansir index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius.Hal yang sangat berbeda dengan yang terjadi di Malaysia misalnya. Setiap orang di Malaysia bisa mengahbiskan tiga judul buku bacaan per tahunnya. Apalagi untuk negara maju seperti Jepang. Bisa di atas lima sampai sepuluh buahbuku per tahun per orangnya. (www.jppn.com.08/06/2016)


Ada  dua jenis minat baca yakni membaca karena paksaan dan membaca karena kemauan sendiri. Cara yang mudah untuk membedakan keduanya adalah dari “kenikmatan” yang tampak. Mereka yang membaca karena terpaksa tentu melakukannya dengan muram sehingga cepat jenuh.

Sebaliknya, yang melakukannya atas kehendak sendiri akan tampak aysik dan seakan-akan ingin “melahap” semua waktunya untuk membaca. Selain itu juga tampak dari hasilnya. Karena betapapun keras peraturan yang diterapkan tentang keharusan membaca, hasilnya tidak akan pernah lebih baik bila dibandingkan dengan membaca yang dilakukan atas kemauan sendiri. Artinya harus diupayan agar minat baca pada anak tumbuh karena keinginan sendiri. Untuk itu orang tua memegang peranan utama serta harus berupaya agar membaca menjadi sesuatu hal yang disukai. Karena hal ini akan membuat anak menjadi selalu memiliki waktu untuk membaca. Hal ini lah menjadi titik awal salahnya.

Hal senada disampaiakan Imron Rosidi (2011) bahwa kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan apabila sudah menjadi budaya. Perlu adanya pembiasaan tanpa paksaan sampai masyarakat dalam lingkungan tertentu agar senang membaca.

Menumbuhkan minat baca
Seperti halnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak dini, sejak kanak-kanak. Hal ini menuntut keikutsertaan orangtua. Karena peletak pondasi utama pendidikan anak adalah orangtua. Dengan demikian orangtualah yang sesungguhnya menjadi penentu berminat atau tidaknya seorang anak terhadap buku atau bahan bacaan. Para orang tua harus memastikan bahwa kecintaan akan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting bagi seorang anak. Kegiatan membaca harus dilakaukan dari lingkungan paling kecil yakni keluarga. Orangtua harus menanamkan budaya baca kepada anak-anak sejak dini.hal tersebut dapat membentuk budaya baca ketika mereka dewasa.

1.    Orangtua
Upaya orangtua akan lebih optimal apabila didukung oleh pihak lain. Dari pihak penerbit misalnya; hendaknya memperbaiki kualitas perwajahan buku, ilustrasi, isi, dan cara penyajian yang tentunya menarik minat pembaca terutama anak-anak. Pemanfaatan metode “komik”  dalam mengulas materi pelajaran misalnya. Penerbit juga hendaknya melakukan atau memperbanyak kegiatan promosi buku. Tidak hanya di sekolah maupun perpustakaan, tetapi juga dilokasi-lokasi yang menjadi kegemaran anak-anakseperti taman bermain dan lain sebagainya.

Mendorong minat baca dimulai dengan keteladanan, " Jika guru ingin siswanya membaca, maka  gurunya juga harus membaca. Demikian juga dengan orangtua, jika ingin anaknya membaca  maka, orangtua harus membaca". Ada berbagai cara membuat kegiatan membaca menyenangkan, seperti mengajak alumni yang berkecimpungan di dunia penulisan untuk berbagi mengenai dunia baca tulis, dan butuh peranan publik untuk mewujudkanya.
peningkatan  kemampuan membaca penting karena akan sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam keseharian. Disisi lain,  membaca juga menjadi awal yang baik untuk menulis. Sebab dengan banyak membaca dapat membentuk  imajinasi yang sistematis dalam berpikir.

2.    Dari pihak sekolah, hendaknya diterapkan sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar. Antara lain dengan mengubah pola pengajarn dari teacher based learning menjadi  resources based learning. Pola ini mendorong pendidik untuk memberi penugasan dan anak didik mencari jawabannya sendiri, antara lain diperpustakaan. Selain itu, perlu adanya reward bagi siapa saja yang mau secara konsisten memanfaatkan koleksi perpustakaan. Sekolah juga perlu mengintensifkan kegiatan yang merangsang aktivitas membaca, misalnya pendidikan dan pelatihan menulis, lomba menulis, bedah buku, dan diskusi buku. Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukung hal ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

3.    Dari pihak masyarakat harus mulai mengubah pemahaman yang keliru. Selama ini anak yang suka membaca justru dianggap aneh, bahkan dijuluki “kutu buku” atau lebih dari itu dianggap “kurang pergaulan”, egois, sok pintar dan sebagainya. Tentu anak tidak suka dengan julukan yang demikian karena hal ini akan membuatnya menjauh dari temannya. Tentu kondisi seperti ini secara tidak langsung akan menjauhkan anak dari kegiatan membaca.
Masyarakat seharusnya memiliki upaya untuk menyediakan bahan bacaan. Karena minat baca biasanya linear dengan ketersediaan bahan bacaan. Entah itu berupa koran, majalah, buku, E-book, mengahdirkan pondok baca dan lainya. Bahan bacaan ini patut diadakan sebagai pemantik minat baca.

4.    Dari pihak media massa (terutama radio/TV harus memanfaatkan medianya untuk ikut mensosialisasikan pentingnya membaca. Membaca memang lebih sulit dibandingkan dengan melihat dan mendengar. Itulah sebabnya orang lebih suka mendengarkan radio ataupun menonton TV. Apalagi akhir-akhir ini sejumlah stasiun televisi menayangkan program hiburan yang sangat tidak mendidik, bahkan jauh dari itu malah merusak karakter dan moral anak. Media masa hendaknya tidak saja mengeluarkan iklan layanan masyarakat mengenai ajakan membaca,  akan tetapi harus juga mulai membuat program promosi membaca (reading promotion). Sebuah program yang berkaitan dengan salah satu buku tertentu. Dengan program tersebut diharapkan setelah anak selesai menikmati media massa tersebut ia menjadi tertarik untuk mencari dan membaca buku yang dibicarakan.

Memaknai keberadaan aksara
Penerapan berbagai upaya diatas diharapkan akan menumbuhkan minat dan kebiasaan baca masyarakat terutama anak-anak. Bila minat dan kebiasaan membaca ini telah terwujud pada setiap orang maka akan menjadi cikal-bakal embrio dari terbentuknya masyarakat membaca (reading sociaty) yang merupakan ciri dari masyarakat belajar (learning sociaty) yang diperlukan dalam masyarakat berpengetahuan (knowledge sociaty). Bukankan hal ini menjadi keinginan kita? Karena itu marilah kita budayakan membaca, sebagai salah satu aktivitas yang memaknai keberadaan aksara.

Selasa, 14 Maret 2017

GELIAT IKLIM ILMIAH DI ADONARA TENGAH






Mengawali semester genap Tahun Pelajaran 2016-2017SMA  Negeri  Adonara Tengah gelar seminar sehari tentang pendidikan, seminar pendidikan ini dilaksanakan pada hari Senin, 10 Januari 2017. hadir dalam kegiatan ini Camat Adonara tengah sebagai kepala wilayah, dan para peserta seminar yang terdiri dari Kepala sekolah dan guru-guru dan Ketua Komite utusan dari beberapa lembaga pendidikan di wilayah Adonara Tengah serta Kepala desa se-Kecamatan Adonara tengah hadir juga Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd Koordinator AGUPENA wilayah Adonara Barat Adonara Tengah dan Wotan Ulumado. Kegiatan seminar ini bertema “MELAUI BUDAYA KERJA KITA TINGKATKAN KINERJA GURU” dengan nara sumber Drs. Hendrikus Notan Ola, Pengawas Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Flores Timur dan  Dr. Boli Sabon Max, SH, M.Hum Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, serta dipandu oleh moderator Aloysius Boli Rimo S.Ag. guru pada SMA Negeri  Adonara Tengah.
Disela pemaparan materinya Drs. Hendrikus Notan Ola mengatakan bahwa menurut pengamatannya sebagai seorang pengawas yang juga bertugas diwilayah ini bahwa Bapak, Ibu Guru diwilayah ini telah mengarah ke budaya kerja dan kinerja yang profesional. Guru  tak perlu menegur anak, tapi cukup dengan memberikan teladan kepada peserta didik, karena guru ideal itu memiliki kejujuran dan integritas. Ungkap Nootan Ola.
 Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd  berpendapat Geliat iklim ilmiah diwilayah Adonara tengah semakin terasa, hal ini terlihat terbukti dengan terlaksananya seminar pendidikan oleh beberapa lembaga ppendidikan. Saya menyarankan agar kegiatan serupa terus digalakan diwilayah ini demi peningkatan kapasitas guru sebagai pendidik. Saya juga menyampaiakn profisiat kepada SMA Negeri Adonara Tengah  hal ini walau baru berumur setahun sejak dinegrikan pada 23 Desember 2015 tetapi telah menyelenggarakan kegiatan yang mampu menghadirkan para steakholder diwilayah ini.    
Maksimus Mamung Gesi, S.Pd Kepala Sekolah SMA Negeri Adonara Tengah dalam sambutannya sebagai penanggung jawab kegiatan seminar menyampaikan bahwa hari ini kegiatan seminar hari ini merupakan peristiwa penting dalam dunia pendidikan khususnya untuk Wilayah Adonara Tengah, karena dengan pendidikan manusia akan menrubah kualitas kehidupan, dari kehidupan yang sederhana menjadi lebih baik. Guru hari ini tengah digugat, apakah kinerja kita selama ini sudah baik ?, hal ini menjadi refleksi kita dalam tugas kemanusiaan ini, kita harus menerjang halangan dan rintangan demi kemajuan agar hidup ini menjadi bermakna.
Camat Adonara Tengah Kia Sanga Fransiskus dalam sambutan membuka acara seminar mengatakan Sebagaimana amanat undang-undang bahwa pendidikan merupakan upaya untuk mencercaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan kita meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, bangsa ini dapat disegani oleh negara lain jika kualitas pendidikan telah menjadi Peraturan mentri pendidikan bahwa pendidikan minimal seorang guru adalah S 1 / D IV. Kia Sanga juga mengingatkan bahwa kebiasaan masyarakat kita lebih mementingkan urusan adat istiadat dengan biaya tinggi sehingga persoalan pendidikan sering kita abaikan.Mari kita minimalisir segala potensi konflik di wilayah kita, karena jika berada dalam konflik maka urusan peningkatan pendidikan akan terhambat dan hal itu membawa efek negatif pada perkembangan generasi kedepan. Kepada guru dan para peserta seminar camat Adonara Tengah ini menginatkan bahwa  Jika kita tidak melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan tupoksi kita maka kita akan mendapatkan punisment.
Dr. Boli Sabon Max, SH, M.Hum sebagai nara sumber utama dalam pemaparan materinya dengan dengan judul  “Etika Kerja dan Karya Orang Lamaholot” mengutip UU Nomor. 14 Tahun 2005 pasal 1.1 berbunyi Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peseta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Oleh karena itu status dan roles seorang guru adalah mengubah sikap dan prilaku peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang dari individu menuju pribadi dan kepribadian yang memiliki self skill, jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki komitmen dan integritas yang kuat.***




LITERASI LESTARI DIUJUNG PENA GURU KAMPUNG







Sabtu pagi tepatnya tanggal 4 Maret 2017 di sebuah Gedung megah nan luas yakni OMK keuskupan Laratuka  hari yang cerah tanpa kabut itu telah menjadi saksi sejarah, bahwa dengan ketulusan yang nyata sekelompok guru muda tengah memilin harapan akan mimpi tentang generasi emas dimasa yang akan datang. Ketika mentari ramah hadir seakan tersenyum  menjemput anak dunia, saya pun bergegas lekas dengan selaksa harapan. Untuk mendukung Gerakan Literasi yang saat ini tengah menjadi salah satu program andalan Kementeri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Asosiasi Guru Penulus Indonesia (AGUPENA) Cabang Flores Timur menggelar Seminar Pendidikan dengan tema “ Lestarikan Gerakan Literasi”. 
Hadir dalam kegiatan seminar ini sebagai nara sumber yakni wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Alexander Take Ofong, S.Fil, pria sederhana yang penuh dengan gagasan-gagasan yang briliant, Pimpinan Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT. Gusty Rikarno, S.Fil, pria muda kelahiran Flores Barat yang menurut saya cukup “gila”, pria yang selalu resah dengan stigma negatif tentang kemiskinan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Thomas Akaraya Sogen, M. BA, lelaki paruh baya yang dilahirkan dari tanah Solor yang saat ini semangatnya bagaikan anak yang baru berumur tujuh belas tahun. Dan Diantara deretan lelaki yang menjadi nara sumber yang tak kalah menawan seorang  gadis Nusa Nipa Santi Sima Gama, S.Psi, gadis lajang dengan julukan si “Perempuan Pena”. Pesonanya seakan menghipnotis kurang lebih 300 guru-guru dan siswa-siswa kampung peserta seminar ini.
Kelembutan laku, luwes dan akrab perempuan pena yang tengah menyelesaikan pendidikan magisternya di tanah Keraton Jogyakarta,  seorang gadis yang dari auranya sudah pasti bahwa ia merupakan perempuan yang tengah melompat dari keadaan praliterer ke dalam masa pasca literer. Santi Sima Gama sahabat buku yang dengan kerelaan hati dan keikhlasan jiwanya telah hadir berbagi kebahagiaan yang tak mau ia reguk sendiri, Yah memang tidak bisa dipungkiri Santi Sima Gama telah memainkan perannya sebagai perempuan timur yang emansipatif, ketulusannya dalam berbagi jelas terlihat dan terdengar bahkan bisa kita rasakan dengan hati. Merasa terpanggil untuk mewartakan kebaikan demi jaya generasi Nusa Tenggara Timur mendatang.
Antusiasme peserta seminar dalam menyimak pemaparan materi semakin memacu semangat para nara sumber, hingga senja yang dibalut larik pelangi indah itu hampir raib keperaduaanya akan tetapi, lontaran pertanyaan dan pernyataan seakan tak mampu dibendung, saya yakin hadirnya perempuan pena telah melepaskan sarung pemasung hingga hampir setiap peserta kaum hawa sadar bahwa perempuan  kecantikan itu semakin mempesona bila dibarengi dengan kecerdasan.    
Semangat berbagi menjadi tekad yang bulat bagi kami yang tergabung dalam Asosiasi Guru Penulus Indonesia (AGUPENA) Cabang Flores Timur, kami harus berbangga bahwa seminar yang dilaksanakan di pusat Kota Kabupaten ini merupakan “ide-ide gila” gila anak kampung. Berawal dari keresahan terhadap sejuta persoalan yang mendera sekian banyak guru dan siswa serta anak muda Flores Timur sehingga secara perlahan tapi pasti Agupena mengisi ruang-ruang hampa yang menjadi harapan para guru, siswa dan generasi muda flores timur dengan berbagai kegian ini. Sebagai penyelenggara boleh saya katakan bahwa kegiatan seminar inilah yang paling banyak pesertanya untuk ukuran Flores Timur. ***


Jumat, 20 Mei 2016

Guru Indonesia Terpilih Juara Guru Inovatif Sedunia



Guru Indonesia Terpilih Juara Guru Inovatif Sedunia

Ditulis Oleh Joy Johari pada Jumat, 29 Mei 2015 | 03.39


Kalau kita orang Indonesia mendengar bahwa ada Guru Indonesia menjadi juara lomba mengajar yang inovatif sedunia, tentu saja ikut gembira dan bangga. Walaupun kualitas pendidikan Indonesia dianggap jalan di tempat, namun Indonesia ternyata menyimpan banyak guru yang baik dan inovatif. Salah satunya dibuktikan dengan berita yang dilansir oleh dream.co.id berikut ini.
Puji%2BLestari%2Bdan%2BMuhammad%2BZulham
Puji Lestari dan Muhammad Zulham (memegang Piagam)
Dua pengajar Indonesia, Puji Lestari dari SD Muhammadiyah Terpadu Ponorogo dan Muhammad Zulham dari SMP 1 Sedayu Bantul dinobatkan sebagai guru inovatif sedunia. Mereka terpilih menjadi First Runner Up ajang Global Educator Challenge yang digelar Microsoft di Washington DC, Amerika Serikat.
Ajang ini digelar pada 29 April sampai dengan 1 Mei 2015. Sebanyak 300 pengajar dari 80 negara berkumpul dan saling bertukar pikiran di ajang ini.
Puji berhasil memukau dewan juri pada kategori Project Plan melalui program pembelajaran lingkungannya, sedangkan Zulham meraih penghargaan kategori Learning Activity dengan proyek Gallery Walk yang dibuatnya.
"Proyek yang saya tunjukkan dalam acara ini mengenai kampanye lingkungan bersih yang telah saya lakukan di sekolah bersama dengan para murid saya. Pertama, murid melakukan observasi di rumah mereka dan lokasi sekitar sekolah," ujar Puji, melalui keterangan tertulis dilansir Dream.co.id dari Microsoft, Kamis, 28 Mei 2015.
Puji menerangkan, siswanya mencatat jenis mencatat jenis sampah yang ada dan penanganannya oleh masyarakat sekitar. Setelah masa observasi, kata dia, para siswa membuat brosur mengenai kebersihan dengan pesan utama reduce, reuse dan recycle agar dapat ditiru dan diterapkan masyarakat sekitar," kata dia.
Sementara Zulham membuat proyek Gallery Walk untuk meningkatkan keterlibatan siswa yang kurang aktif di kelas. Proyek ini dia mulai sejak tahun 2013 lalu.
Dalam proyek ini, Zulham membagi siswa menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas menjaga booth dan mempresentasikan proyek, sedangkan kelompok satunya bertanya pada penjaga booth.
"Untuk membuat proyek ini mereka menggunakan berbagai teknologi, termasuk smartphone untuk mengakses informasi di internet. Melalui proyek ini, anak-anak dapat belajar menggunakan teknologi dan kemampuan komunikasi verbal mereka juga terasah,” kata dia.
Terkait dengan kompetisi sendiri, Puji dan Zulham mengaku begitu senang. Ini lantaran mereka dapat bertemu dengan guru dari seluruh dunia dan berbagi teknik dan pengalaman mengajar yang begitu variatif.
"E2 Global Educator Exchange yang diselenggarakan Microsoft adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya dan sekolah untuk mendapatkan ide terkait metode mengajar dan juga pengembangan diri," kata Puji.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Zulham. "Melalui acara E2 Global Educator Exchange, saya mendapatkan banyak pengalaman bertemu dengan guru-guru dari 80 negara. Saya belajar banyak tentang metode-metode mengajar yang semakin variatif dan saling berbagi mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran di kelas," ungkap dia.
Sumber: Dream.co.id

Minggu, 03 Januari 2016

POLEMIK SERTIFIKASI GURU


Asalamu'alaikum wr.wb. selamat pagi dan salam sejahtera untuk rekan-rekan guru seluruh indonesia....
mari simak informasi terbaru berikut ini....
 Dunia pendidikan menyambut 2016 dengan tanda tanya besar: bagaimana dengan guru yang belum memiliki sertifikat pendidik? Menurut UU Guru dan Dosen, pada 2016, setiap guru yang mengajar harus sudah memiliki sertifikat pendidik. Jika tidak, mereka tidak berhak mengajar. Pensiun dini atau mutasi ke tenaga administratif.

Menurut data Kemendikbud, dari 3.015.315 guru, ada 1,4 juta guru yang belum tersertifikasi. Artinya, pemerintah harus segera mengeluarkan UU, perpres, atau permen untuk menjawab masalah di atas. Intinya, harus ada payung hukum, pada 2016 guru diperbolehkan mengajar sambil menunggu gilirannya disertifikasi. Guru belum tersertifikasi bukan kesalahan mereka, tetapi kemampuan pemerintah dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terbatas.

Setidaknya ada tiga masalah yang harus dijadikan perhatian pemerintah terkait sertifikasi guru. Pertama, guru yang belum tersertifikasi. Mereka tetap disertifikasi melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Bagi guru yang sudah mengajar dua tahun sebelum 2016, tetap disertifikasi melalui pola PLPG selama sembilan hari. Sedangkan, bagi guru yang mulai mengajar pada 2015, disertifikasi melalui pola baru, yaitu PPG selama sekitar delapan sampai 10 bulan.

Biaya PLPG ditanggung pemerintah, sedangkan biaya PPG ditanggung guru atau calon guru. Biaya PPG bisa saja ditanggung pemerintah, dengan syarat-syarat tertentu, seperti calon-calon guru yang dinilai berprestasi, kompeten, telah mengabdi lebih dari lima tahun, dan telah mengabdi di daerah 3T. Tersedia pula pilihan PPG berbiaya sendiri, jika guru mampu atau merasa terlalu lama menunggu panggilan.

Jika biaya PLPG ditanggung guru, pasti akan menambah beban guru, khususnya guru swasta. Sebagai contoh, pada 2015, ketika guru-guru dari Bangka Belitung mengikuti PLPG di Bogor atau guru-guru dari Madura ke Gorontalo, mereka berutang untuk biaya transportasi dan lainnya. Karena itu, pada 2016, seharusnya guru-guru mengikuti PLPG atau PPG di LPTK yang terdekat dengan sekolah mereka.

Pola PPG yang akan dilaksanakan pada 2016 bagi calon-calon guru baru melahirkan masalah kedua, yaitu belum semua LPTK memiliki asrama—sebagaimana diamanahkan regulasi. Asrama dibutuhkan untuk (terutama) pengembangan kompetensi kepribadian dan sosial calon-calon guru. Tidak sulit mencari calon-calon guru yang pintar, tetapi sangat sulit mencari dan melahirkan calon-calon guru yang berjiwa pendidik.

Asrama juga memungkinkan proses belajar klasikal berlangsung efektif karena mahasiswa bisa datang tepat waktu. Pada saat saya mengajar PPG pada 2013, mahasiswa sering telat dengan alasan macet dan menunggu hujan reda. Mereka tidak diasramakan, akibatnya mereka yang jauh mencari kos, sedangkan mereka yang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, berangkat kuliah dari rumah mereka masing-masing.

Dampak negatif lain peserta PPg yang tidak diasramakan adalah mereka masih tetap mengajar di sekolah masing-masing, entah karena dipaksa kepala sekolah atau karena keinginannya sendiri. Mereka memang tidak kehilangan pendapatan bulanan, tetapi kuliah sambil bekerja sangat menguras tenaga dan menyita pikiran. Akibatnya, bekerja dan kuliah tidak bisa berjalan efektif sesuai harapan.
Oleh karena itu, pemerintah haruus mengidentifikasi LPTK mana saja yang belum memiliki asrama dan segera menyediakan anggaran pembebasan lahan dan pembangunan asrama. Jika tidak, pola PPG akan sangat variatif, sesuai dengan kondisi LPTK. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan keluaran calon-calon guru. Akan terjadi kesenjangan kualitas guru di Indonesia karena perbedaankelengkapan fasilitas LPTK.

Ketiga, guru tersertifikasi. Banyak hasil kajian menunjukkan bahwa tunjangan sertifikasi tidak berkorelasi dengan peningkatan kompetensi guru.sertifikasi hanya meningkatkan kesejahteraan guru. Padahal, kecuali meningkatkan kesejahteraan, tujuan sergur adalah peningkatan kompetensi. Namun penelitian yang dilakukan tim 9 Kemenag terhadap guru-guru pendidikan agama (Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha) menunjukkan bahwa sertifikasi mampu meningkatkan kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogis dan profesional.

Jika guru belum sadar membelanjakan uangnya untuk pengembangan keilmuannya, guru itu perlu perubahan mental. Bahwa menjadi pendidik itu tidak boleh berhenti belajar; menjadi pendidik itu tidak alergi dengan perpustakaan, buku, jurnal, dan koran; menjadi pendidik itu senang berlama-lama di acara seminar, workshop, dan pelatihan. Selembar sertifikat pendidik tidak akan membuktikan kompetensi guru, tetapi karya nyata berupa prestasi siswa dan prestasi dirinya.

Perubahan mental pendidik itulah yang dibutuhkan guru-guru saat ini. Seharusnya kepala sekolah dan pengawas mampu menginspirasi para guru di bawah binaannya untuk menjadi guru yang pendidik. Akan tetapi, keduanya belum bisa menjalankan fungsinya secara maksimal. Alih-alih menjadi teladan guru-guru di sekolah, keduanya kerap menjadi sumber masalah bagi guru-guru yang kreatif, inovatif, dan ingin maju.

Maka pelatihan guru pasca sertifikasi merupakan pilihan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan. Peran pemerintah tidak selesai dengan pemberian sertifikat pendidik. Peran itu akan melekat terus sepanjang guru-guru mengajar dan mendidik generasi penerus bangsa, dari Sabang sanpai Marauke.

Selain pelatihan, pemerintah harus memberikan ruang perpustakaan, rak buku, buku, ruang laboratorium komputer, dan komputer kepada madrasah/sekolah swasta. Masih ingat banyak madrasah yang tidak memiliki perpustakaan, apalagi laboratorium komputer. Tidak saja siswa,perpustakaan akan meningkatkan gairah membaca guru. Dengan membaca, pengertahuan guru akan terus bertambah dan idak ketinggalan zaman.

Itulah tiga masalah keguruan, sekaligus tiga agenda pencerahan guru pada 2016. Pemerintah sah saja menuntut kompetensi dan kinerja guru pasca sertifiksi. Namun, masalah tersebut tidak hanya bisa diselesaikan dengan pemberian tunjangan yang sering tersendat dan jarang cair. Kecuali perbaikan kesejahteraan, guru memerlukan fasilitas belajar yang memadai. Semoga 2016 merupakan tahun pencerahan bagi guru.

Sumber: (http://www.republik.co.id/)