Mengenai SayaBIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Te

Adonara, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
BIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Tengah-Flores Timur pada tanggal 11 Agustus 1981. Menamatkan strata I pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kupang pada tahun 2009. Asy’ari Hidayah Hanafi kini menjadi guru pada SMP Negeri Panca Marga Kolimasang, Adonara, Flores Timur, NTT. Pengalaman menulis :  Karya jurnalistik, esai dan puisi dimuat di Media Online weeklyline.net, Flores Post, Jong Flores, Kalabahi Pos dan Media Pendidikan Cakrawala NTT.  Menulis Buku “Tapak Tuah” Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flores Timur Penerbit Nusa Indah, Ende 2017  Menulis Buku “Revolusi Mental Ala Guru” Kumpulan Esai Guru Flores Timur Penerbit Coral Maumere 2018 Asy’ari Hidayah Hanafi juga menjadi pembicara dan Nara Sumber diklat menulis dibeberapa sekolah dan Komunitas Anak Muda di Flores Timur. Pengurus Asosisasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Cabang Flores Timur. Aktif di Nara Teater Flores Timur dan menjadi salah satu aktor dalam Lakon “Ina Lewo” Pentas Pekan Teater Nasional 2018, Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta 13 Oktober 2018.

Jumat, 01 Desember 2017

KRITERIA GURU INSPIRATIF



KRITERIA GURU INSPIRATIF
Oleh Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd

A great teacher always inspires. Guru yang hebat selalu menginspirasi. Sebagain orang akan mengira bahwa menjadi guru merupakan pekerjaan yang mudah. Jika kita kembalikan kepada  makna dasarnya maka sesungguhnya tidaklah mudah menjalankan profesi sebagai seorang guru. Apalagi menjadi seorang guru yang mampu mengisnpirasi orang lain terutama murid-muridnya. Saya yakin kita akan sepakat bahwa guru bukan sekedar mengajar, melainkan juga mendidik dan menggugah untuk selalu berbuat baik.
betapa menjadi seorang guru merupakan satu pekerjaan yang sangat menguras tenaga lebih-lebih pikiran. Oleh karena itu kualitas pikiran adalah faktor penting yang menentukan kualitas pekerjaan dalam kehidupan kita. Kualitas pekerjaan kita juga ditentukan oleh pikiran kita. Kita akan dan selalu menggunakan pikiran kita dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam pekerjaan kita. Menjadi guru tidak sekedar bermodal kepiawaian dalam menyampaikan materi pelajaran transfer knowledge kepada peserta didik, akan tetapi masih terlalu banyak hal penting lainnya yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang yang berprofesi sebagai guru. Mengemban tugas sebagai guru tak hanya sekedar berpusat pada ranah pelajaran dan pengajaran tetapi juga mengenai sikap tingkah laku yang baik dan kepribadian yang seyogyanya melekat pada seorang pendidik. Ada beberapa hal yang menurut saya harus dimiliki oleh seorang guru agar ia layak dikatakan sebagai guru inspiratif yakni :
1.      Kecerdasan Spiritual
Aspek spiritual atau ruhaniah merupakan aspek yang sangat penting dimiliki oleh seorang guru, karena tanpa kecerdasan spiritual seorang guru akan kehilangan arah pijakan dalam proses mendidik anak, secara otomatis jika seorang guru memiliki kecerdasan spriritual yang tinggi maka kemampuan mengarahkan peserta didik kepada bagaimana mengenal sang pencipta melalui materi yang diajarkan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Pendidik dan pendidikan harus mampu melakukan pembinaan terhadap ruhani. Pembinaan ruhani memiliki makna dimana pendidikan harus mampu menciptakan hubungan yang terus menerus antara ruh dengan Tuhannya dalam saat apapun dan pada seluruh kegiatan apapun serta pada seluruh kegiatan berpikir dan merasa.Dengan demikian dapat kita pahami bahwa dalam dunia pendidikan memiliki karakter dan tugas dimana pendidikan tersebut harus mampu melakukan pembinaan yang baik antara dirinya manusia dengan Tuhan sang pencipta.
Akal adalah kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Tuhan yang paling besar. Melakukan pembinaan tenaga akal dengan pembuktian dan pencarian kebenaran, lalu ia menempuh dua cara sebagai berikut: yang pertamaadalah menempatkan strategi yang tepat menurut penilaian akal fikiran dan yang kedua menyelidiki aturan-aturan alam dan mengkajinya dengan cermat.
Dengan demikian bahwa seorang guru dalam melaksanakan pendidikan harus mampu membangun manusia menjadi manusia yang mampu berinteraksi dengan tuhannya secara baik dan benar, pembinaan akal akan menjadi manusia berilmu dan mengurangi kesalahan didalam menjalankan interaksi dengan Tuhannya, jasmani akan memperkuat dirinya didalam melaksanakan interaksi tersebut sedangkan ruh sebagai penguat jiwa yang mampu menghubumgkan kontak secara langsung dengan Tuhannya. Artinya pendidikanlah yang menjadi hal yang utama dalam menata kembali kemampuan otak agar bekerja sesuai dengan tuntunan.

2.      Kecerdasan Emosional
Disekolah manapun tidak selamanya seorang guru berhadapan dengan siswa yang enteng, atau yang baik-baik saja, penurut dan yang mudah diatur. Sebaliknya seorang guru seringkali berhadapan dengan siswa yang tidak mudah diatur, nakal bahkan ada yang berulah memancing emosi. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Ketika hal ini terjadi, seorang guru seringkali memberikan sanksi, mengeluarkan dari kelas, bahkan memarahi habis-habisan atau justru kita mencoba untuk mempelajari dengan bijaksana tentang perlakuan siswa tersebut sebelum kita mengambil kepetusan.
Apapun tindakan yang kita lakukan untuk mengatasi murid yang kerap kali mengusik emosi, satu hal yang harus kita ingat, kontrollah emosi dengan baik. Sebagaimana pendapat Salman Rusydie (2012), bahwa Guru yang baik  adalah guru yang mampu mengontrol emosinya dengan baik. Akan tetapi untuk menjadi guru yang seperti ini bukanlah perkara yang mudah. Kita harus banyak belajar dan berlatih untuk benar-benar bisa menjadi sosok guru yang mampu mengontrol emosi.
Oleh sebab itu, sebagai  guru kita perlu menambah dan memperkaya wawasan menegenai pentingnya mengontrol emosi dan pentingnya memupuk kesadaran dengan cara membaca buku-buku yang berkenaan dengan masalah tersebut. Artinya sebagai guru kita dituntut untuk belajar banyak hal selain mata pelajaran yang kita ajarkan. Yakinlah bahwa semakin banyak yang kita ketahui, maka semakin mengerti sesuatu yang harus kita lakukan saat menghadapi masa-masa sulit sekalipun.

3.      Kecerdasan intelektual
Mengutip apa yang pernah disampaikan Buckminster Fuller sebagai berikut: All children are born geniuses; 9.999out of every 10.000 are swiftly inadvertently degeniusized by grownups. Sebenarnya kegeniusan atau kemampuan otak semua manusia itu sama. Namun sayang, seiring dengan pertumbuhan, kegeniusan itu terkikis atau menjadi terpendam secara tidak disadari karena pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat dan terutama pendidikan. Otak merupakan anugerah kebanggaan manusia, kebanggaannya tersebut terkadang menjadikan manusia tersebut menjadi orang yang sombong. Karena otak yang dimiliki oleh manusia memiliki kelebihan yang sangat besar, dengan otaknya ia mampu membedakan antara satu dengan yang lainya, mengenal kemampuan-kemampuannya, memahami cara menggunakannya, serta mencipatakan sesuatu yang baru dari benda yang diperolehnya dari lingkungannya, baik dibumi maupun dilangit.
Penemuan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru lainnya sesungguhnya bukanlah sesuatu menentukan, yang menentukan adalah cara memanfaatkan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru tersebut, yaitu apakah digunakan untuk tujuan-tujuan damai ataukah untuk tujuan-tujuan perang. Memang tidak dipungkiri bahwa akal bisa membedakan yang baik dan yang buruk, tetapi akal itu bukanlah penentu kebenaran.
Kecerdasan otak atau intelektualitas menjadi aspek yang urgen yang dibutuhkan oleh setiap individu dalam menjalankan pekerjaannya, tidak terkecuali bagi seorang guru. Hal inilah yang kemudian diartikan sebagai profesionalisme, apa saja bidang pekerjaan yang diemban jika diserahkan kepada mereka yang yang profesional dan mengetahuinya dengan baik jenis pekerjaan tersebut maka ia akan menjalankan segala sesuatunya penuh dedikasih yang tinggi dan bertanggungjawab, tentu saja konsekwensinya adalah tercapainya hasil yang maksimal dan berkualitas baik.
4.      Etika  dan Estetika
Menurut Salman Rusydie (2012), bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menjadi guru, maka dengan sendirinya ia harus mampu menjadi pembimbing, pembina pengasuh dan suri tauladan bagi siswanya. Jika guru melakukan tindakan yang benar maka tindakan itu akan diterima oleh muridnya.  
Seorang guru harus menempatkan moralitas, kode etik, sumpah jabatan dan janji profesi sebagai pijakan utama dalam melaksanakan tugas dan karyanya.  Urgensi nilai etika dan estetika sangat besar manfaatnya sebagai usaha pemantapan arah hidup generasi muda terutama peserta didik dalam berbagai bidang yang menyangkut ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental dalam masyarakat.
Nilai keindahan dan tata cara dalam berkomunikasi,bertindak, metode, model serta tutur kata, sopan santun dan tingkah laku. Guru ketika berada didepan kelas layaknya seorang model yang selalu menjadi perhatian oleh setiap mata peserta didik, sehingga tanpa disadari semua bentuk ekpresi guru menjadi panutan bagi siswanya.
5.      Prilaku Sosial
Sebagai seorang guru yang selalu berinteraksi dengan berbagai pihak. Hubungan antar guru dengan pimpinannya (kepala sekolah), guru dengan guru, guru dengan orang tua, guru dengan siswa, dengan demikian relasi sosial seharusnya terus dijaga agar hubungan mutualisme dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat tercapai.
6.      Kepercayaan Diri
Kepercyaan diri merupakan hal yang berhubungan erat dengan mental seseorang, ketika kepercayaan diri seseorang matang maka tekanan psikologis sebesar apapun akan mampu teratasi dengan baik tanpa ada kesulitan.
Dari uraian diatas, sebagai guru penulis berharap agar ke-enam point diatas dapat kita ambil sebagai pijakan dalam membimbing dan mendidik siswa kita dijalan kebaikan. Meniti jalan generasi kebangkitan.[]


BUDAYA MEMBACA DAN KETERSEDIAAN BAHAN BACAAN



BUDAYA MEMBACA DAN KETERSEDIAAN BAHAN BACAAN
Oleh Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)membaca merupakanan kata kerja yang berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).  Sedangkan menurut Retno Utami (2007:1) Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan menemukan makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pengenalan makna kata sesuai dengan konteksnya merupakan syarat awal yang diperlukan untuk memahami pesan yang terdapat dalam bahan bacaan. Dalam perspektif islam membaca merupakan ajaran yang jelas dan tegas. Al-Qur’an secara dini mengisyaratkan pentingnya membaca dan meningkatkan minat baca. Dalam Al-Qur’an perintah membaca adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Hal initermuat dalam surah Al-Alaq ayat 1-5.  
Artinya membacamerupakan kegiatan dan kemampuan khas manusia. Walaupun demikian membaca tidak terjadi secara otomatis, membaca harus didahului oleh aktivitas dan kebiasaan membaca yang merupakan wujud dari adanya minat baca.Untuk meningkatkan minat baca ini, kendala yang dihadapi di antaranya adalah dukungan fasilitas. Keberadaan bahan bacaan masih kurang dekat dengan orangnya. Toko buku pun lebih banyak berada di perkotaan. Sementara dipedesaan sanagat sulit ditemui.

Perlu kita ketahui bersama bahwa peringkat minat baca Indonesia dalam data World's Most Literate Nations berada di urutan 60 dari 61 negara. Peringkat tersebut merupakan hasil penelitian dari Central Connecticut State University tahun 2016. Selain itu, pada tahun 2012 Unesco melansir index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius.Hal yang sangat berbeda dengan yang terjadi di Malaysia misalnya. Setiap orang di Malaysia bisa mengahbiskan tiga judul buku bacaan per tahunnya. Apalagi untuk negara maju seperti Jepang. Bisa di atas lima sampai sepuluh buahbuku per tahun per orangnya. (www.jppn.com.08/06/2016)


Ada  dua jenis minat baca yakni membaca karena paksaan dan membaca karena kemauan sendiri. Cara yang mudah untuk membedakan keduanya adalah dari “kenikmatan” yang tampak. Mereka yang membaca karena terpaksa tentu melakukannya dengan muram sehingga cepat jenuh.

Sebaliknya, yang melakukannya atas kehendak sendiri akan tampak aysik dan seakan-akan ingin “melahap” semua waktunya untuk membaca. Selain itu juga tampak dari hasilnya. Karena betapapun keras peraturan yang diterapkan tentang keharusan membaca, hasilnya tidak akan pernah lebih baik bila dibandingkan dengan membaca yang dilakukan atas kemauan sendiri. Artinya harus diupayan agar minat baca pada anak tumbuh karena keinginan sendiri. Untuk itu orang tua memegang peranan utama serta harus berupaya agar membaca menjadi sesuatu hal yang disukai. Karena hal ini akan membuat anak menjadi selalu memiliki waktu untuk membaca. Hal ini lah menjadi titik awal salahnya.

Hal senada disampaiakan Imron Rosidi (2011) bahwa kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan apabila sudah menjadi budaya. Perlu adanya pembiasaan tanpa paksaan sampai masyarakat dalam lingkungan tertentu agar senang membaca.

Menumbuhkan minat baca
Seperti halnya kegiatan pembelajaran yang lain, upaya menumbuhkan minat baca juga akan lebih mudah dan efektif apabila dilakukan sejak dini, sejak kanak-kanak. Hal ini menuntut keikutsertaan orangtua. Karena peletak pondasi utama pendidikan anak adalah orangtua. Dengan demikian orangtualah yang sesungguhnya menjadi penentu berminat atau tidaknya seorang anak terhadap buku atau bahan bacaan. Para orang tua harus memastikan bahwa kecintaan akan membaca adalah tujuan pendidikan yang terpenting bagi seorang anak. Kegiatan membaca harus dilakaukan dari lingkungan paling kecil yakni keluarga. Orangtua harus menanamkan budaya baca kepada anak-anak sejak dini.hal tersebut dapat membentuk budaya baca ketika mereka dewasa.

1.    Orangtua
Upaya orangtua akan lebih optimal apabila didukung oleh pihak lain. Dari pihak penerbit misalnya; hendaknya memperbaiki kualitas perwajahan buku, ilustrasi, isi, dan cara penyajian yang tentunya menarik minat pembaca terutama anak-anak. Pemanfaatan metode “komik”  dalam mengulas materi pelajaran misalnya. Penerbit juga hendaknya melakukan atau memperbanyak kegiatan promosi buku. Tidak hanya di sekolah maupun perpustakaan, tetapi juga dilokasi-lokasi yang menjadi kegemaran anak-anakseperti taman bermain dan lain sebagainya.

Mendorong minat baca dimulai dengan keteladanan, " Jika guru ingin siswanya membaca, maka  gurunya juga harus membaca. Demikian juga dengan orangtua, jika ingin anaknya membaca  maka, orangtua harus membaca". Ada berbagai cara membuat kegiatan membaca menyenangkan, seperti mengajak alumni yang berkecimpungan di dunia penulisan untuk berbagi mengenai dunia baca tulis, dan butuh peranan publik untuk mewujudkanya.
peningkatan  kemampuan membaca penting karena akan sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam keseharian. Disisi lain,  membaca juga menjadi awal yang baik untuk menulis. Sebab dengan banyak membaca dapat membentuk  imajinasi yang sistematis dalam berpikir.

2.    Dari pihak sekolah, hendaknya diterapkan sistem pendidikan yang menimbulkan kegairahan belajar. Antara lain dengan mengubah pola pengajarn dari teacher based learning menjadi  resources based learning. Pola ini mendorong pendidik untuk memberi penugasan dan anak didik mencari jawabannya sendiri, antara lain diperpustakaan. Selain itu, perlu adanya reward bagi siapa saja yang mau secara konsisten memanfaatkan koleksi perpustakaan. Sekolah juga perlu mengintensifkan kegiatan yang merangsang aktivitas membaca, misalnya pendidikan dan pelatihan menulis, lomba menulis, bedah buku, dan diskusi buku. Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukung hal ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

3.    Dari pihak masyarakat harus mulai mengubah pemahaman yang keliru. Selama ini anak yang suka membaca justru dianggap aneh, bahkan dijuluki “kutu buku” atau lebih dari itu dianggap “kurang pergaulan”, egois, sok pintar dan sebagainya. Tentu anak tidak suka dengan julukan yang demikian karena hal ini akan membuatnya menjauh dari temannya. Tentu kondisi seperti ini secara tidak langsung akan menjauhkan anak dari kegiatan membaca.
Masyarakat seharusnya memiliki upaya untuk menyediakan bahan bacaan. Karena minat baca biasanya linear dengan ketersediaan bahan bacaan. Entah itu berupa koran, majalah, buku, E-book, mengahdirkan pondok baca dan lainya. Bahan bacaan ini patut diadakan sebagai pemantik minat baca.

4.    Dari pihak media massa (terutama radio/TV harus memanfaatkan medianya untuk ikut mensosialisasikan pentingnya membaca. Membaca memang lebih sulit dibandingkan dengan melihat dan mendengar. Itulah sebabnya orang lebih suka mendengarkan radio ataupun menonton TV. Apalagi akhir-akhir ini sejumlah stasiun televisi menayangkan program hiburan yang sangat tidak mendidik, bahkan jauh dari itu malah merusak karakter dan moral anak. Media masa hendaknya tidak saja mengeluarkan iklan layanan masyarakat mengenai ajakan membaca,  akan tetapi harus juga mulai membuat program promosi membaca (reading promotion). Sebuah program yang berkaitan dengan salah satu buku tertentu. Dengan program tersebut diharapkan setelah anak selesai menikmati media massa tersebut ia menjadi tertarik untuk mencari dan membaca buku yang dibicarakan.

Memaknai keberadaan aksara
Penerapan berbagai upaya diatas diharapkan akan menumbuhkan minat dan kebiasaan baca masyarakat terutama anak-anak. Bila minat dan kebiasaan membaca ini telah terwujud pada setiap orang maka akan menjadi cikal-bakal embrio dari terbentuknya masyarakat membaca (reading sociaty) yang merupakan ciri dari masyarakat belajar (learning sociaty) yang diperlukan dalam masyarakat berpengetahuan (knowledge sociaty). Bukankan hal ini menjadi keinginan kita? Karena itu marilah kita budayakan membaca, sebagai salah satu aktivitas yang memaknai keberadaan aksara.