Mengenai SayaBIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Te

Adonara, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
BIODATA Asy’ari Hidayah Hanafi dengan nama pena Ary Toekan, lahir di Wewit-Adonara Tengah-Flores Timur pada tanggal 11 Agustus 1981. Menamatkan strata I pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kupang pada tahun 2009. Asy’ari Hidayah Hanafi kini menjadi guru pada SMP Negeri Panca Marga Kolimasang, Adonara, Flores Timur, NTT. Pengalaman menulis :  Karya jurnalistik, esai dan puisi dimuat di Media Online weeklyline.net, Flores Post, Jong Flores, Kalabahi Pos dan Media Pendidikan Cakrawala NTT.  Menulis Buku “Tapak Tuah” Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flores Timur Penerbit Nusa Indah, Ende 2017  Menulis Buku “Revolusi Mental Ala Guru” Kumpulan Esai Guru Flores Timur Penerbit Coral Maumere 2018 Asy’ari Hidayah Hanafi juga menjadi pembicara dan Nara Sumber diklat menulis dibeberapa sekolah dan Komunitas Anak Muda di Flores Timur. Pengurus Asosisasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Cabang Flores Timur. Aktif di Nara Teater Flores Timur dan menjadi salah satu aktor dalam Lakon “Ina Lewo” Pentas Pekan Teater Nasional 2018, Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta 13 Oktober 2018.

Kamis, 28 Juni 2018

PELAYARAN SENJA



Senja itu hujan lebat. Kabut menggantung hingga jarak pandang tak seberapa. Hanya sekitar satu setengah meter. Di laut gelombang lumayan ganas. Ribuan manusia berseliweran di pelabuhan kota kecil pinggir pantai. Matahari hampir raib ke peraduan, kapal telah dua kali memberi tanda akan bertolak. Dari berita sebuah koran lokal terbaca prakiraan cuaca dari BMKG beberapa minggu kedepan hujan disertai angin kencang melanda hampir diseluruh wilayah provinsi ini. Bahkan perairan diseluruh wilayah inipun akan diamuk ombak setinggi tiga sampai empat meter.
Hujan mulai reda berganti rinai rintik. Orang-orang menggunakan payung, ada juga yang berjas hujan. Sedangkan buruh-buruh membiarkan tubuhnya dibasahi hujan bercampur asin keringat. Diantara hiruk-pikuk kesibukan pelabuhan ada seorang pria muda. Pria itu berkulit sawo matang dengan ransel coklat yang melekat di punggungnya. Ia bergegas menuju ruang tunggu, Ara namanya. Bepergian dengan kapal laut terakhir ia jalani enam tahun silam ketika mengikuti Dikalat Prajabatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Lantaran cuaca Desember terus hujan, angin bahkan kabut, hingga Ara lebih memilih melakukan perjalanan kali ini dengan kapal laut. Dengan tiket di tangan kiri dan tangan kanannya menggenggam erat jemari mungil seorang perempuan. Keduanya berjalan cepat menuju tangga darurat lantaran kapal mulai beranjak menjauh dari pelabuhan.
Terdengar teriakan seorang petugas pelabuhan pada keduanya agar sejoli ini lebih cepat melangkah. Hampir saja Ara dan perempuan itu tertinggal kapal. Syukurlah keduanya lolos naik ke kapal. Dari dek enam keduanya menuruni anak tangga  demi mencari kabin yang kosong untuk ditempati. Ketika sampai di dek tiga terlihat lengang, maklum ini akhir tahun orang-orang lebih memilih mudik daripada keluar kota. Ara dan perempuan yang telah dinikahinya enam tahun silam itu akhirnya mendapatkan tempat tidur.
Setelah menyimpan tas dan istirahat sejenak pasangan suami istri itu lalu beranjak ke Kafetaria. Layaknya anak muda zaman now keduanya berselfi ria disaat kapal mulai lepas tali menuju samudra luas. Melewati selat yang kecil dengan arus gonsalu yang terkenal ganas, kapal melaju membelah ombak. Senja diufuk mulai memerah pertanda malam segera tiba. Tibalah masanya sujud senja, segera kedua sejoli menuju musholla yang berada diburitan kapal. Kesejukan air wudhu membasuh wajah, letih dan lelah serasa hilang seketika.
Ara  mengumandangkan azan. Kali ini penuh tawaddhu ia gemakan suaranya demi memanggil jamaah untuk kembali berserah diri dihadapanNya dan merapalkan do'a dan pujian kepada sang Robbul Izzati. Seusai Sholat Magrib kedua sejoli kembali menikmati hembusan sepoi angin senja. Kembali bernostalgia mengingat masa  pertama kali kedua sejoli ini menimba ilmu di Kota Daeng.

Ara guru kampung, yang saban hari berjibaku dengan seabrek aktivitas mengajar. Sesekali ia diundang menjadi nara sumber di sekolah-sekolah pelosok. Sang guru kampung yang akhir-akhir ini gemar menekuni dunia tulis menulis itu, tahun ini sengaja berlibur ke Kota Daeng,  tanah yang melahirkan Hasanuddin pejuang kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan julukan ayam jantan dari timur.
Pukul 03.45 Ara si guru kampung telah terjaga, ini kebiasaan yang melekat pada mantan santri ini. Ia bangunkan kekasihnya kemuadian kedua sejoli ini menuju Mushollah menunaikan kewajiban sholat subuh dan bermunajat semoga pelayaran senja ini senantiasa dilindungi maha penguasa alam raya. Pagi ini tak telalu cerah, awan-awan hitam serupa bongkahan gunung es menggantung di langit, udara segar terasa sejuk, alam teduh penuh khusu seakan bermunajat pada yang kuasa. Meski matahari seakan malu menampakkan wajahnya namun laut tenang ramah menampung keteduhan, . Semakin lama semakin jelas terlihat garis-garis warna. Di kiri dan kanan tak lagi terlihat gugusan pulau, kini kapal tengah berada di samudra nan luas. Dari kejauhan samar terlihat sebuah benda berbentuk memanjang berwarna kemerahan, kini semakin jelas terlihat jaraknya tak terlalu jauh, " ternyata kita tak berlayar sendiri",  bisik lembut sang istri pada telinga ara. Sekira 2 mil dari kapal yang ditumpangi kedua sejoli ini ada sebuah kapal barang melaju disisi kanan kapal penumpang ini. Mungkin ini "Tol Laut" salah satu program pemerintah untuk mendekatkan pelayanan bahan pokok dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat, ungkap perempuan disampingnya.
Laut begitu sabar menampung serakan sampah yang mengapung dibawa arus, dibuang oleh mereka yang tak memiliki empati, laut yang juga ikhlas diarungi kapal-kapal, meski kapal-kapal itu berlalu datang dan pergi begitu saja, Ara membatin, dihadapannya perempuan teman kelasnya tatkala SMP dahulu yang kini telah menjadi pendamping hidupnya sejak enam tahun silam. Kedua sejoli ini masih terus setia menikmati segarnya bayu pagi.
Waktu terus berlalu, deru mesin kapal mengantar Ara dan ribuan angan. Pria penikmat sastra yang tengah gemar menekuni dunia tulis menulis itu terus berpacu dengan sejuta inspirasi dan mengutak-atik keyboard HPnya demi menyelesaikan sederet sajak. Ia tak mau ide sederhana itu dibiarkan berlalu tanpa dijadikan skrip yang mungkin saja kelak beguna, walau sekadar menghiasi dinding akun facebooknya. Karena baginya telah banyak ide-ide "gila" dari orang-orang cerdas yang pernah berdiskusi dengannya namun raib tanpa bekas lantaran tak diarsipkan dengan baik. Ia ingin ide-idenya menjadi warkat walaupun hanya pada anak-anak kampung. Meski hanya menjadi pemicu semangat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar